Sungguh sangat abnormal orang-orang yang ingin mencapai kelulusan di dunia nasional dengan cara mencari bocoran soal. Saya mendapati hal ini dari tag-tag dari sea
rch engine yang mena mayoritas mencari soal bocoran UNAS dan nyasar ke blog
Sungguh sangat abnormal orang-orang yang ingin mencapai kelulusan di dunia nasional dengan cara mencari bocoran soal. Saya mendapati hal ini dari tag-tag dari sea
rch engine yang mena mayoritas mencari soal bocoran UNAS dan nyasar ke blog
19 11 2007
Assalamualaikum wr. wb.
Berita tentang ujian nasional dengan gonjang-ganjingnya yang mensuarakan model baru (tapi barang lama) evaluasi tahap akhir pada jenjang SMA ini, sepertinya telah disikapi dengan banyak hal dilini pelaksanan pendidikan, yaitu sekolah.
Banyak sekolah yang dengan segera dan bergegas-gegas berusaha melakukan penyiapan melalui kegiatan-kegiatan drilling soal kepada siswa-siswanya, ada yang menangkap dengan emosial dengan melakukan demonstrasi, tapi ada juga yang menanggapinya dengan dingin-dingin saja, toh…, nantinya ketika ujian berlangsung, tinggal tunggu 10 atau 15 menit, simsalabim jawaban akan datang dengan sendirinya.
Pada umumnya sekolah-sekolah di kabupaten kendal, termasuk SMA Cepiring, sejak bulan Nopember ini-pun melakukan usaha yang sama, dengan memberikan tambahan pelajaran ke 9 dan ke 10, pada hari senin, selasa, rabu dan kamis (kenapa tidak sampai sabtu sekalian ya, ga ada dana kaliya). Sebuah usaha positip untuk menyongsong ketakutan akan ketidaklulusan ini. Sesuatu yang dipersiapkan tentunya akan lebih baik daripada tidak dipersiapkan sama sekali. Kompetensi yang telah dicapai siswa pada tahun pertama dan kedua bersekolah di jenjang SMA, coba untuk diulang dan “dikenang” kembali, sehingga pada ujian nasional nanti, kompetensi yang telah dinyatakan tuntas ini kembali dapat dituntaskan kembali (ya…, kalau yang dapat tuntas, kalau yang tidak itu berarti proses evaluasi tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotor, yang telah dilakukan dinyatakan tidak berlaku dan tidak ada artinya, atau boleh dikatakan usaha guru dalam melakukan evaluasi masih sangat dirasa tidak profesional, sehingga keputusan yang telah diambil dianulir dengan keputusan kolektif atas nama “ujian nasional”)
Dengan mensitir apa yang dikatakan oleh, Pramudyaningtyas, pada acara talkshow Open House Republik mimpi di Metro TV pada hari Jumat 16 Nopember 2007, yang membahas tentang bulying diantara siswa dan guru kepada siswa, dikatakan bahwa jika kejadian seperti itu tidak terjadi justru aneh, bagaimana tidak terjadi pelecehan dan penghinaan antara sesama siswa atau guru yang merupakan ranah sikap seorang siswa di sekolah, jika sistem pendidikan yang ada dan diterapkan sudah rusak, kurikulum yang diterapkan juga rusak, bahkan gurunyapun juga rusak (wah tersingung juga ni sebagai guru, tapi bener juga khan).
Kembali lagi tentang Ujian Nasional yang sedang di bahas, konsep yang jelas-jelas ambigu, antara penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang didasarkan pada kurikulum berbasis kompetensi ini sepertinya dipantati oleh keputusan pelaksanaan Ujian Nasional yang jelas-jelas bertolak belakang dengan semangat otonomi sekolah yang merupakan salah satu prinsip kurikulum tingkat satuan pendidikan. Lebih jauh lagi, ujian dengan 3 mata pelajaran dan standart minimal 4,25 seperti yang telah terjadi pada tahun tahun kemarin-pun banyak menuai masalah di banyak titik. Tentunya masalah akan lebih banyak muncul jika pembebanan yang diberikan menjadi lebih besar, yang hampir 2 kali lipatnya, yaitu jumlah mata pelajaran yang diujikan menjadi 6 mata pelajaran, dan standart kelulusanpun naik menjadi 5,25 (walalu ini masih punya wacana, namun jika yang mewacanakan adalah orang dari BSNP, maka kepercayaan pelaksanan pendidikan tentunya cukup tinggi.)
Terlebih dengan dikeluarkan Permen Nomor 20 tahun2007, tentang standart penilaian pendidikan yang jelas-jelas menyebutkan bahwa penilaian pendidikan dilakukan oleh pendidik atas koordinasi kepala sekolah. Tidak ada kalimat yang menyatakan bahwa penilaian pendidikan dilakukan oleh BSNP atas koordinasi dari menteri, atau wakil presiden atau presiden.
Penterjemahan yang terjadi di kendal, sepertinya juga mengamini kebijakan yang dirasa salah ini, insya allah, mulai tanggal 10 Desember 2007, secara serentak semua sekolah setingkat Menengah Atas, akan diselenggarakan Ulangan Umum bersama 6 Mata Pelajaran Ujian Nasional. Sebenarnya ini usaha untuk apa sih…. Secara hirarkis memang guna mensukseskan ujian nasional, maka perlu diselenggarakan, kegiatan-kegiatan sejenis dijenjang yang lebih rendah, seperti di tingkat kabupaten misalnya. Namun andai-toh-pun diinginkan hal tersebut, barangli profesionalisme dalam proses penyelenggaraaan yang terhubung dengan kebijakan yang diambil tentunya harus doptimalkan. Seperti paket yang akan digunakan dalam ulangan umum bersama ini. Dengan model soal tunggal dan kelas homogen yang diterapkan tentunya proses pengawasan menjadi lebih sulit, dan hal ini berujung pada keengganan guru dalam melaksanakan kegiatan koreksi, karena tingkat kerjasama yang tinggi antar siswa (atau barangkali memang hal ini sesuatu yang dikondisikan supaya pada ujian nasional nanti sudah cukup mahir mengelabui pengawas) Belum lagi kalau melihat proses pembuatan soal yang dilakukan oleh MGMP mata pelajaran terkait, kesan yang paling tepat dimunculkan adalah tidak ada keseriusan.
Dan jika proses yang terjadi pada awalnya adalah sedemikian, maka dapat dipastikan maka hasil yang akan diharapkapan ya tidak ada keseriusan tersebut. Yang kemudian terjadi pada pemikiran adalah, apa gunanya penyelenggaraan ulangan umum bersama ini. Jika memang pengkodisian yang terjadi adalah sedemikian, adakah motif-motif lain dari MKKS dalam penyelenggaraan ulangan umum bersama ini. Adakah ini hanyalah usaha untuk meminimalkan pembiayaan ulangan umum sekolah, yang memang logikanya, jika ditanggung oleh banyak sekolah tentunya akan lebih murah dibanding diselenggarakan secara mandiri, ataukan usaha pencarian dana kesejahteraan bagi MKKS, atau entahlah apa. Tapi yang jelas, jika profesionalisme guru tetap tidak diakui baik secara nasional maupun oleh kepala sekolah lewat MKKS-nya, maka tidak ada artinya pencanangan guru sebagai pekerjaan profesional, dan sertifikasi hanyalah usaha untuk menambah kesejahteraan guru saja, bukan berujung pada profesionalisme.
Kalau sesama guru sudah tidak saling mempercayai, terus siapa lagi yang dapat dipercayai.
Vivat Guru Indonesia, Save The Education.
Wassalam
Posted by johnleorens | Uncategorized | | No Comments Yet
|
||
Co-chairs Secretary for Resources Mike Chrisman, State Controller Steve Westly, and Secretary for Environmental Protection Linda Adams invite you to join us for California and the World Ocean ‘06 (CWO ‘06)! For the fourth time in our state’s history, California plans to convene the international conference called California and the World Ocean. The conference will take place September 17-20, in Long Beach, California. With this event, California will bring together representatives from all states, including 35 coastal states, academia, government, industry, and the public to positively influence the course of ocean and coastal protection.
The U.S. Commission on Ocean Policy and the Pew Oceans Commission have documented that our nation’s oceans and coastlines are in trouble. They have developed hundreds of recommendations for improvement. In response, Governor Arnold Schwarzenegger released one of the most forward-looking state ocean action plans in the nation, Protecting Our Ocean: California’s Action Strategy. The California Ocean Protection Council has made substantial advancements in implementing that plan. New state ocean strategies and management councils are being formed around the nation to respond. This conference will emphasize the need for California, other states, and even other countries to move from planning for future action, to taking action. The conference will emphasize the connection between land and sea and will identify actions from our watersheds to the deep ocean waters off our coast.
The California Ocean Protection Council will open this conference with a new vision for action to protect and manage our ocean and coastal resources. The conference will focus on evaluating our achievements since the release of the U.S. Ocean Commission report, and on the necessary steps for moving forward. Although the call for papers is focused on California, much of this input will also apply to state, regional, national, and international levels. Past conferences have attracted participants from throughout California, the United States, and as many as seven other nations. We anticipate as many as 1,000 participants.
This conference is the continuation of a state-sponsored conference of the same name first held more than 40 years ago and again in 1997 and 2002. Since the 1964 conference, California’s population has grown from 18 million to more than 35 million. By 2025, 75 percent of California’s population is projected to live in coastal counties. These population trends are similar to those occurring throughout the United States and in other coastal locations throughout the world. Our growing population is bringing about additional pressures on resources that will require new and innovative approaches for management. This conference will help us take the next steps.
We invite you to join us for this event in Long Beach. CWO ‘06 will include plenary sessions, panels, and paper presentations. Poster sessions, workshops, exhibits, field trips, and social gatherings will also help foster a fruitful exchange of information and ideas.
Please plan to join us in September. You don’t want to miss this important event!
Co-chairs Secretary for Resources Mike Chrisman, State Controller Steve Westly, and Secretary for Environmental Protection Linda Adams invite you to join us for California and the World Ocean ‘06 (CWO ‘06)! For the fourth time in our state’s history, California plans to convene the international conference called California and the World Ocean. The conference will take place September 17-20, in Long Beach, California. With this event, California will bring together representatives from all states, including 35 coastal states, academia, government, industry, and the public to positively influence the course of ocean and coastal protection.
The U.S. Commission on Ocean Policy and the Pew Oceans Commission have documented that our nation’s oceans and coastlines are in trouble. They have developed hundreds of recommendations for improvement. In response, Governor Arnold Schwarzenegger released one of the most forward-looking state ocean action plans in the nation, Protecting Our Ocean: California’s Action Strategy. The California Ocean Protection Council has made substantial advancements in implementing that plan. New state ocean strategies and management councils are being formed around the nation to respond. This conference will emphasize the need for California, other states, and even other countries to move from planning for future action, to taking action. The conference will emphasize the connection between land and sea and will identify actions from our watersheds to the deep ocean waters off our coast.
The California Ocean Protection Council will open this conference with a new vision for action to protect and manage our ocean and coastal resources. The conference will focus on evaluating our achievements since the release of the U.S. Ocean Commission report, and on the necessary steps for moving forward. Although the call for papers is focused on California, much of this input will also apply to state, regional, national, and international levels. Past conferences have attracted participants from throughout California, the United States, and as many as seven other nations. We anticipate as many as 1,000 participants.
This conference is the continuation of a state-sponsored conference of the same name first held more than 40 years ago and again in 1997 and 2002. Since the 1964 conference, California’s population has grown from 18 million to more than 35 million. By 2025, 75 percent of California’s population is projected to live in coastal counties. These population trends are similar to those occurring throughout the United States and in other coastal locations throughout the world. Our growing population is bringing about additional pressures on resources that will require new and innovative approaches for management. This conference will help us take the next steps.
We invite you to join us for this event in Long Beach. CWO ‘06 will include plenary sessions, panels, and paper presentations. Poster sessions, workshops, exhibits, field trips, and social gatherings will also help foster a fruitful exchange of information and ideas.
Please plan to join us in September. You don’t want to miss this important event!
Global warming is the increase in the average temperature of the Earth’s near-surface air and oceans in recent decades and its projected continuation.
The global average air temperature near the Earth’s surface rose 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) during the 100 years ending in 2005.[1] The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) concludes “most of the observed increase in globally averaged temperatures since the mid-20th century is very likely due to the observed increase in anthropogenic greenhouse gas concentrations”[1] via the greenhouse effect. Natural phenomena such as solar variation combined with volcanoes probably had a small warming effect from pre-industrial times to 1950 and a small cooling effect from 1950 onward.[2][3] These basic conclusions have been endorsed by at least 30 scientific societies and academies of science,[4] including all of the national academies of science of the major industrialized countries.[5][6][7] While individual scientists have voiced disagreement with some findings of the IPCC,[8] the overwhelming majority of scientists working on climate change agree with the IPCC’s main conclusions.[9][10]
Climate model projections summarized by the IPCC indicate that average global surface temperature will likely rise a further 1.1 to 6.4 °C (2.0 to 11.5 °F) during the 21st century.[1] The range of values results from the use of differing scenarios of future greenhouse gas emissions as well as models with differing climate sensitivity. Although most studies focus on the period up to 2100, warming and sea level rise are expected to continue for more than a thousand years even if greenhouse gas levels are stabilized. The delay in reaching equilibrium is a result of the large heat capacity of the oceans.[1]
Increasing global temperature will cause sea level to rise, and is expected to increase the intensity of extreme weather events and to change the amount and pattern of precipitation. Other effects of global warming include changes in agricultural yields, trade routes, glacier retreat, species extinctions and increases in the ranges of disease vectors.
Remaining scientific uncertainties include the amount of warming expected in the future, and how warming and related changes will vary from region to region around the globe. Most national governments have signed and ratified the Kyoto Protocol aimed at reducing greenhouse gas emissions, but there is ongoing political and public debate worldwide regarding what, if any, action should be taken to reduce or reverse future warming or to adapt to its expected consequences.
Originally released in 1978, Black Devil’s “Disco Club” is an extremely rare disco masterpiece, an epic journey into the deepest electronic disco.
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Saya tidak alergi terhadap kegiatan semacam itu tetapi yang penting itu manfaat dari kegiatan itu dikedepankan. Sudah waktunya kita tinggalkan kegiatan-kegiatan yang bersifat formalitas saja apalagi kalau ternyata malah “NIATNYA” saja sudah nggak bener (memangnya dukun kok tahu niat orang lain). Harus disadari bersama bahwa untuk kegiatan itu yang digunakan adalah UANG RAKYAT/UANG MURID bukan uangnya sendiri. Maka amanah kepercayaan mengelola itu harus bener, kalau tidak bisa rugi sendiri karena setiap yang kita lakukan harus kita pertanggungjawabkan dan kita nggak bisa berdalih dengan logika dan alasan. (ingat QS;Yasin 65).
Saran saya setelah ulangan nanti, dianalsis dan di umumkan hasilnya pada siswa sehingga :
1. siswa tahu berapa nilainya
2. siswa tahu nomor berapa dia bisa menjawab benar dan no berapa yang dia jawab salah
3. materi apa saja yang dia tidak bisa.
Kalau itu dilakukan insya Allah hasilnya bagus, sudah terbukti ada manfaat untuk peningkatan. Saya punya data pendukungnya!.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjutk. Amin
Makasih mas ut atas kunjungannya di weblog saya serta tanggapan atas tulisan “ceng-ceng po” yang coba di lontarkan.
Alangkah indahnya jika sustainabilitas dari sebuah program seperti yang mas ut lontarkan tersebut dapat menjadi suatu kenyataan, namun kenyataan yang timbul sepertinya, sistem yang mengitari kita tidak berpihak pada keinginan kita tersebut, hal ini terbukti dari hal yang saya dengar ketika pembuatan soal di SMA 1 Kendal hari sabtu kemarin, pernyataan yang disampaikan oleh pak Topo, bahwa proses koreksi yang dilaksanakan oleh sekolah/guru sendiri (nah ini lagi…, kerja setengah-setengah yang coba dilakukan, kalau memang mau melaksanakan proses evaluasi, kenapa tidak sekaligus dengan pengkoreksiannya dan akan lebih bagus lagi sekaligus dengan analisis dan pemetaan kekuatan masing-masing sekolah, sehingga dapat menjadi “koco benggolo” terhadap proses penyiapan yang telah dilaksanakan yang pada ujungnya diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan hasil perolehan pada ujian nasional yang menjadi target pelaksanaan kegiatan). Sepintas, hal yang saya tangkap seperti mau proyeknya…, tapi tidak berani menanggung akibatnya, well…., just heaven knows)
Kalau pengkoreksi adalah guru mata pelajaran sendiri, terus apa gunanya soal dibuat secara bersama, apa gunanya dilaksanakan secara bersama, dan apa gunanya semua ini.
Belum lagi kalau di tilik proses pelaksanaan yang akan terjadi di sekolah (wow… kita bukan dukun juga ya…, hingga tahu apa yang akan terjadi pada pelaksanaannya, tapi dari kondisi yang ada bolehkan kita mengoptimasi dari pengalaman yang telah ada…) Siswa dikumpulkan dalam satu kelas yang sama kemudian diuji dengan soal yang sama, diawasi oelh guru yang tidak mengawasi tetapi menunggui siswa dalam mengerjakan soal (maksudnya bekerjasama mengerjakan soal).
Andai yang terjadi adalah hal sedemikian, salahkan jika guru menjadi tidak semangat untuk melakukan koreksi, apalagi jika harus koreksi manual, kemudian harus ditambah dengan menganalisa perolehan siswa terhadap soal yang diujikan.
Dengan berbekal niat baik…, semoga keinginan yang disampaikan oleh mas ut, dapat dijalankan di SMA Cepiring, sehingga perbaikan kondisi yang adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi berikutnya. Amin
Wassalam